Fardiyah
Dulu kita ditanya kenapa tidak mau membina dan kami utarakan bermacam alasan yang ada, entah karena belum siap, belum mantap, takut tidak bisa menyeimbangkan dan masih banyak alibi yang ada. Sekarang giliran kita sudah tahu urgensi membina dan ada usaha dari kita untuk mengikuti dan mentaati rangkaian acara untuk mempersiapkan ilmu, kesungguhan, pemahaman, waktu, tenaga serta pengorbanan kita. Saat itu pula kita ditanya, mana hasil dari dauroh-dauroh murobbi selama ini. Percuma kalau banyak ikut organisasi dimana-mana, dauroh kemana-mana tapi softskill nya sama dengan yang lainnya??

Pertama mendengar itu, kami memang sangat terpukul, kecewa pada diri sendiri dan menganggap ya seperti itulah kita. Tapi mengapa rasa terpukul itu membuat kami balik bertanya. Apakah semua hal yang kita lakukan untuk bekal kita membina harus diberitahukan agar, si penanya tahu apa sepak terjang kita. Kami rasa itu tidak akhsan. Kami melalui rangkaian acara untuk bekal membina bukan semata-mata ingin dianggap lebih tinggi, lebih mampu atau sebagainya. Tapi kami merasa baru sekarang kami memahami bahwa untuk membina itu memerlukan pengorbanan yang lebih. Untuk belajar lebih banyak, untuk bekerja lebih lama, untuk mengerjakan lebih banyak. Memang semua itu kadang membuat kami seakan-akan terlalu sibuk dengan urusan kami dalam mempersiapkan. Tapi bagi orang yang tidak mempunyai basic/dasar terlebih dahulu akan lebih sulit. Si penanya mengatakan seperti itu karena beliau dasarnya sudah tahu lebih dulu tentang urgensi membina, lebih awal mempunyai binaan, lebih banyak mempunyai mutarobbi. Sementara kita yang masih awal, kami perlu peyesuaian diri. saya merasa belum bisa serta-merta mencari binaan sendiri, karena saya belum pernah melakukan itu sebelumnya, mungkin juga karena nyali yang kecil. Ada ketakutan bahwa bila saya mencari binaan sendiri, takut salah dalam mencitrakan bagaimana seharusnya seorang murobbi itu. Tapi ketika nanti (insyaAllah) kami diberikan mutarobbi-mutarobbi, insyaAllah kami akan berusaha memegang tanggung jawab itu dengan sepenuh hati. Nanti ketika kami sudah terbiasa membina, kami pasti juga akan mencoba hal besar itu (mencari binaan sendiri). Mungkin bagi orang yang sudah expert membina, perihal mencari binaan itu hal yang biasa. Tapi bagi kami yang awam, hal itu adalah hal besar. Membutuhkan keberanian, mental dan kemampuan khusus. Kami akan sangat terpukul ketika diawal kami membangun pondasi untuk membina, malah dijatuhkan dengan adanya tuntutan untuk memberikan bukti-bukti dari hasil kami ikut dauroh-dauroh murobbi. Kami merasa tidaklah baik, ketika kami menunjukkan apa-apa yang kami kerjakan. Allah lebih mengetahui itu. Itu merupakan sebuah proses yang harus kami alami untuk mendewasakan hati dan diri. Semoga Allah merahmati jalan dan proses yang kami lalui ini. Amin ya Rabb.

Advertisements