Syumul artinya menyeluruh, sempurna. Karenanya Islam bukan sekedar agama. Selama ini yang kita tahu bahwa agama hanya mengatur urusan kita dengan pencipta (ibadah mahdoh), maka Islam hadir sebagai ideologi. Islam mengatur semua aktifitas manusia, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Ada tiga pokok aturan Islam yaitu :

  1. Habluminallah (mengatur urusan manusia dengan pencipta, bisa dikatakan ibadah mahdoh)
  2. Habluminannas (mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, biasa disebut muamalah)
  3. Habluminafsih (mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri)

Tetapi kebanyakan manusia mencukupkan diri pada ibadah, syahadadnya saja, sholatnya aja, zakat, puasa, haji, sudah itu aja cukup. Padahal rukun iman yang lima itu baru tiangnya. Kita analogikan Islam adalah sebuah bangunan, maka kebanyakan umat Islam saat ini hanya mencukupkan membangun rumah dengan tiangnya saja, alangkah malangnya.

Mengaku bersyahadad (Asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah) bahwa tidak ada Tuhan yang patut di sembah kecuali Allah, tetapi masih sering meminta kepada selainNya dan mengaku bahwa Rasul Allah Muhammad SAW sebagai utusan Allah tetapi tidak mau menerapkan semua apa yang Rasul bawa dalam Al Quran dan Sunnahnya. Padahal konsekuensi dari bersyahadad adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Nya yang dengan cara yang benar sesuai yang termaktub dalam Al Qur’an dan dicontohkan oleh baginda Rasul.

Oleh karena itu, kita tidak boleh pilih-pilih terhadap yang Allah telah atur dalam Al Qur’an. Kita hanya mau hukum Allah yang enak-enak saja. Padahal Al Qur’an terbentang sepanjang 30 Juz, 114 surat dan 6666 ayat, semua aturan manusia kompit. Kita hanyalah ciptaan, tidak berhak memilih-milih aturan mana yang baiknya dipakai dan mana yang tidak baik. Baik menurut kita belum tentu menurut Allah juga baik. Bukan takaran kebaikan yang kita gunakan, hendaklah takaran kebenara (al haq) yang kita pakai. Semua yang datang dari Allah sudah pasti kebenarannya. Maka janganlah sombong dengan membuat hukum sendiri.

Ibarat sebuah handphone, diciptakan tidak sekedar diciptakan tetapi memiliki guna dan dalam penggunaanya pun ada manual book nya agar tidak salah ketika digunakan. Begitu juga manusia, diciptakan adalah ila liyak budun yaitu untuk menyembah Allah yang artinya menjalankan apa yang Allah perintahkan dan tidak melakukan yang Allah larang, manual book kita adalah Al Qur’an dan Hadits. Saudaraku, فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ “Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah”(QS:Adz-Dzaariyat | Ayat: 50)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”(QS:Al-Baqarah | Ayat: 208)

Advertisements